
Taipei, 17-19 Oktober 2025 — Dalam rangkaian International Conference of Nutritional Fortification, yang diselenggarakan bersama International Society for Precision Health (ISPH) dan International Society for Nutritional Psychiatry Research (ISNPR) di Taipei, berbagai peneliti internasional dan anggota Perhimpunan Penggiat Pangan Fungsional dan Nutrasetikal Indonesia (P3FNI) menampilkan hasil riset mutakhir yang menyoroti inovasi fortifikasi pangan, pemanfaatan sumber daya lokal, serta teknologi presisi untuk mendukung kesehatan manusia.

Konferensi ini diawali dengan Consensus Workshop on Nutrition Fortification, Strategy and Application, yang menghadirkan sepuluh narasumber utama dari berbagai negara. Para peneliti terkemuka seperti Dr. Fereidoon Shahidi (Canada), Dr. Debasis Bagchi (USA), Dr. Livia Simon Sarkadi (Hungary), Dr. Jun Nishihira (Japan), Dr. Petras Rimantas Venskutonis (Lithuania), Dr. Kenji Sato (Japan), Dr. Sirichai Adisakwattana (Thailand), Dr. M. Betül Yerer Aycan (Turkey), Dr. Takuya Sugahara (Japan), dan Dr. Kuan-Chen Cheng (Taiwan) berbagi hasil penelitian terbaru di bidang pangan fungsional dan nutrisi presisi. Melalui presentasi mereka, peserta memperoleh wawasan mengenai tren global inovasi pangan, mulai dari pemanfaatan bahan alami, teknologi fermentasi berbasis kecerdasan buatan, hingga intervensi nutrisi dalam kesehatan dan penyakit.

Pada hari kedua, giliran sembilan peneliti Indonesia dari P3FNI yang turut menampilkan karya dan riset unggulan di forum internasional tersebut. Mereka adalah Prof. Dr. Ardiansyah (Universitas Bakrie), Prof. Dr. Christofora Hanny Wijaya (IPB University), Prof. Dr. Eni Harmayani, Dr. Rumiyati, Prof. Dr. Sri Raharjo, dan Dr. Widiastuti Setyaningsih (Universitas Gadjah Mada), Dr. Indah Epriliati serta Dr. Ignasius Radix (Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya), dan Prof. Dr. Zita Letviany Sarungallo (Universitas Papua).
Melalui berbagai topik presentasi, para peneliti Indonesia menyoroti potensi besar kekayaan hayati nusantara dalam pengembangan pangan fungsional mulai dari kenikir, temulawak, serai, hingga buah merah Papua yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber gizi, tetapi juga berpotensi mendukung kesehatan melalui pendekatan nutrisi presisi dan modernisasi pangan tradisional.
Partisipasi aktif para peneliti Indonesia dalam konferensi ini mendapatkan apresiasi dari komunitas ilmiah internasional. Kehadiran P3FNI di forum dunia ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring riset global, tetapi juga menegaskan bahwa inovasi berbasis pangan lokal Indonesia memiliki peran strategis dalam mendukung kesehatan manusia secara global. Melalui kolaborasi lintas negara, P3FNI terus mendorong riset dan pengembangan pangan fungsional yang berdaya saing serta relevan dengan tantangan kesehatan masa kini dan masa depan.






